SEJARAH GEREJA
I. Keadaan dan Terjadinya Desa Sambirejo
Desa Samborejo sekitar Tahun 1800 masih berupa hutan lebat yang dipenuhi rawa-rawa, sehingga disebut hutan prigi, yang artinya sumur. Pohon yang banyak tumbuh di hutan prigi adalah pohon Sambi. Hutan Prigi tersebut dibabat sekitar tahun 1873 oleh dua orang bernama Petrus dan Lewi yang berasal dari Desa Aditoyo Nganjuk. Hutan Prigi dijadikan pedesaan dan diberi nama Desa Sambiroto. Desa Sambiroto ketika itu ikut wilayah Desa Gayam Kecamatan Gurah Kediri. Desa Sambiroto menjadi desa yang semakin bertambah banyak penduduknya, setelah hutan dibuka menjadi desa dan lahan pertanian yang sangat subur. Desa Sambiroto berganti nama menjadi Desa Sambirejo sampai sekarang, setelah desa menjadi ramai.
II. Keadaan Jemaat Sambirejo pada Tahun 1880
Bersamaan dengan terbentuknya Desa, begitu juga persekutuan Orang Kristen yang dipimpin oleh Kyai Petrus dan Kyai Lewi mulai berkembang. Pemerintah desa dipimpin oleh Kepala Dusun. Kepala Dusun yang pertama adalah Kyai Lewi, yang selanjutnya diteruskan oleh Kyai Petrus. Kedua orang itu selain memimpin desa juga memimpin orang-orang Kristen di dalam beribadah dan berjemaat.
Pendeta C. Punsen dari Kediri , mengangkat Kyai Lewi menjadi guru Injil dibantu Kyai Yusak dari Mojowarno. Mereka membangun tempat ibadah (greja) dan tempat belajar (sekolah), untuk meningkatkan iman dan kepandaian para warga. Bangunan gereja dan sekolah tersebut dari kayu yang sangat sederhana (atap welit). Kyai Yusak adalah satu-satunya guru yang hanya mengajar membaca saja, dan dilakukan pukul 12 - 14 WIB. Setelah itu yang menjadi guru bergantian dan bertambah antara lain, Ms Kastam, Ms Purnomo, Kyai Albertus, Ms Eliyo Martowiloyo, Ms Dirun Praja, dan lain-lain. Pelajaran yang diajarkan para guru bertambah berhitung, menggambar, dan lain-lain. Berkembangnya sekolah, diiringi dengan berkembangnya jemaat. Jemaat melakukan Ibadah secara teratur, yaitu pada hari minggu pukul 09.00, dan hari Kamis malam. Desa Sambirejo mulai saat itu, menjadi desa yang berdiri sendiri dan ikut kecamatan Pare.
III. Perkembangan Jemaat Sambirejo
Tahun 1895 Kediri ditunggui Pdt. F. de. Munik. Pdt. F. de. Munik mengganti guru injil Kyai Lewi menjadi Kyai Abiran Asmowinangun (tahun 1902). Pada tahun 1908 guru injil Kyai Abiran dipindah ke jemaat Purworejo (Wates), sedangkan jemaat sambirejo, mendapat guru injil baru yaitu Ms Jakup Marmer (tanggal 17 April 1908 ), dari Purworejo Wates. Di tahun 1916 guru injil Ms Jakub Maarmer belajar lagi di Seminari Yogyakarta (Tahun 1916-1918). Jemaat Sambirejo saat itu dilayani oleh guru injil Ms Darius Hardjo. Ms Jakub Marmer melanjutkan pelayanannya di Jemaat Sambirejo setelah selesai belajar (sampai dengan tahun 1936). Di tahun 1928 – 1931 gedung sekolah dibangun dengan megah sebanyak 5 lokal. Gedung tersebut masih berdiri kokoh sampai sekarang untuk SD YBPK Sambirejo.
IV. Perkembangan Jemaat Sambirejo
Jemaat Sambirejo membangun gedung gereja tanggal 4 April 1931 sampai tanggal 29 Januari 1933. Guru injil Ms Jakub Marmer ditambahi tugas pelayanannya di jemaat Jatiwringin pada tahun 1930-1933. Pada tahun 1936, guru injil Ms. Jakub marmer ditugaskan di Jemaat Sidorejo Pare. Sambirejo dilayani oleh Guru Injil Ms. Lukas (keluaran balai wiyata Malang ). Guru injil Ms Lukas dipindah oleh Majelis Agung ke Jemaat Swaru Malang pada tahun 1940. Jemaat Sambirejo dilayani oleh ds Rosim (1 Januari 1941). Jemaat Sambirejo berjumlah ± 400 jiwa pada waktu itu. Tanggal 15 Pebruari 1941, balai pamitran diresmikan berdirinya.
Tahun 1950, sebutan guru injil oleh majelis agung diganti “Pendeta”. Mulai tahun itu dan seterusnya ditengah jemaat dibentuk Badan-Badan Pembantu Majelis dan Yayasan-Yayasan, misalnya Yayasan Kesehatan, Yayasan Pendidikan dan lain-lain. Pada tahun 1954 SD YBPK dipecah menjadi 2 lembaga masuk pagi dan siang, kerena siswanya sangat banyak (± 600 siswa).
Warga jemaat pada periode tahun 1960-1967 terus bertambah-tambah, serta terbentuknya pepanthan-pepanthan. Adapun pepanthan-pepanthan Jemaat Sambirejo sebagai berikut.
1. Pepanthan Sumberjo (tahun 1950)
2. Pepanthan Sekaran (tahun 1960)
3. Pepanthan Tempuran (1971)
4. Pepanthan Gurah (1972)
5. Pepanthan Bendo (29 Desember 1976)
6. Pepanthan Sumberbendo (tahun 1980)
7. Pepanthan Adan-Adan (29 Desember 1985)
V. Keadaan Jemaat Sambirejo Tahun 1975 – 1982
Tahun 1971-1975 Jemaat Sambirejo dilayani oleh Pdt. Sutiknyo Akas, yang emeritus per 25 Januari 1976. Pendeta Teni Tiyomo dari Jemaat Jatiwringin menggantikan Pdt. Sutiknyo Akas, sebagai pendeta konsulen (1975-1977). Pdt. Sutiknyo Akas digantikan oleh pdt. Srimojo, Sm.Th (8 Mei 1977). Istilah “Badan“ pada Badan-Badan Pembantu Majelis Jemaat diganti dengan istilah ”Komisi” pada tahun 1980-an, meskipun tidak semua. Adapun nama-nama komisi itu antara lain adalah: Komisi Diakoni, Komisi Pekabaran Injil (KPI), Komisi Pemuda, Komisi Wanita. Sedangkan yang masih menggunakan istilah Badan, antara lain: Badan Kebagtian Anak (BKA), Badan Kesehatan Kristen (BKK), Badan Pendidikan Kristen (BPK). Wadah yang menangani harta kekayaan gereja adalah Komisi Hak Milik, Keuangan dan Ekonomi disebut “Komikue”. Dengan adanya komisi-komisi tersebut kegiatan serta pelayanan gereja lebih baik dan lebih berkembang, seiring dengan tumbuhkembangnya pepanthan-pepanthan seperti yang telah disebutkan di atas.
VI. Keradaan Jemaat Sambirejo Tahun 1983-1988
Pada saat pelayanan jemaat sambirejo dilayani Pdt. Srimojo, Sm.Th, perkembangan jemaat cukup baik. Bukti dari perkembangan tersebut adalah bertambahnya warga di dusun Sumberpetung desa Adan-Adan, dan terbentuklah pepanthan Adan-Adan. Pada Tahun 1986, GKJW mulai memberlakukan bentuk kegiatan gereja yang disebut Program Kegiatan Pembangunan (PKP). PKP I tahun 1987-1992. PKP II tahun 1993-1998), PKP III tahun 1999-2004, PKP IV tahun 2005-2010. Melalaui sistem PKP, GKJW menata sistem pelayanan gereja yang disebut Organisasi Tata Laksana (Ortala).
Melalui Ortala yang dahulu disebut Komisi, disempurnakan menjadi Komisi Pembinaan. Contohnya Komisi Pembinaan Pemuda dan Mahasiswa begitu seterusnya. Komisi Pembinaan berlaku di tingkat majelis jemaat dan majelis Daerah. Sedangkan untuk Majelis Agung disebut Dewan Pembinaan, Contoh: Dewan Pembinaan Anak dan Remaja dan seterusnya.
Pendeta Srimojo, Sm.Th mengakiri pelayanannya di Jemaat Sambirejo pada tanggal 25 Agustus 1986, dan selanjutnya dipindahtugaskan di GKJW Jemaat Nganjuk. Jemaat Sambirejo selama 2 tahun (sampai tahun 1988) dilayani oleh pendeta konsulen yaitu Pdt. Drs. Sih Ageng dari Jemaat Kediri.
VII. Keadaan Jemaat Sambirejo Tahun 1989 – 2005
Pdt Srimojo, Sm.Th diganti pendeta Giyarno Ragil, Sm.Th pindahan dari jemaat Gedangan. Pendeta Giyarno Ragil melayani jemaat sambirejo sejak tahun 1989-1994. Sebelum diberi pendeta baku , jemaat Sambirejo dilayani pendeta konsulen dari jemaat Jatiwringin Pdt. Muji Kadarto, S.Th (tanggal 26 Agustus 1995). Sidang Majelis Agung tahun 1995 di Pare mentabiskan beberapa pendeta. Salah satu pendeta yang telah ditabiskan yaitu Pdt. Drs. Daru Prasongko, ditempatkan di Jemaat Sambirejo. Pdt. Drs. Daru Prasongko melayani GKJW Jemaat Sambirejo sejak tanggal 27 Agustus 1995 – September 2005.
VII. Keadaan Jemaat Sambirejo Tahun 2005 sampai 2010
Pendeta Daru Prasongko tahun 2005 di pindah tugaskan ke jemaat Madiun Utara. Jemaat Sambirejo mengalami kekosongan pendeta, sedangkan pimpinan jemaat sementara dipegang oleh Pdt Enggar dari Jemaat Jatiwringin yang bersatatus sebagai konsulen pendeta. Jemaat Sambirejo menerima pendeta Firman Panjaitan, S.Th., M.Th pada akhir tahun 2006 sampai sekarang (Oktober 2010).
Tabel 2.1 Tenaga Gerejawi
No | Keterangan | Jabatan | Laki-Laki | Perempuan |
1. | Pelayan | Pendeta | 1 | 1 |
Penatua | ||||
Diaken | ||||
Guru Injil | - | - | ||
2. | Tenaga | Administrasi | 1 | |
Lapangan | 1 |
Tabel 2.2 Wilayah Pelayanan Jemaat
No | Keterangan | X km dari Induk | Jml KK | Dewasa | Anak | Jml Warga | Tempat Ibadah | ||
L | P | L | P | ||||||
1. | Induk | 0 | 295 | 343 | 406 | 150 | 115 | 1014 | 1 |
2. | Sumberjo | 2 | 28 | 30 | 36 | 14 | 10 | 90 | 1 |
3. | Sekaran | 3,5 | 60 | 76 | 88 | 31 | 13 | 208 | 1 |
4. | Tempuran | 4 | 21 | 21 | 32 | 9 | 6 | 68 | 3 |
5. | Wonosari | 7 | 30 | 49 | 35 | 12 | 8 | 104 | 1 |
6. | Sumberbendo | 3,5 | 20 | 18 | 24 | 6 | 9 | 57 | 1 |
7. | Bendo | 2 | 58 | 65 | 74 | 11 | 13 | 163 | 1 |
8. | Adan-Adan | 2 | 45 | 52 | 48 | 15 | 13 | 128 | 1 |
Jumlah | 557 | 654 | 743 | 248 | 187 | 1832 | |||
*) Isilah dengan angka 1. Jika punya, milik sendiri dan sudh dalam bentuk gereja
2. Jika punya, milik sendiri dan masih dalam bentuk rumah
3. Jika punya, bukan milik sendiri
4. Tidak punya
5 Lainnya
Tabel 2.3 Tanah Kekayaan
No | Jenis | Asal-Usul (beli/hibah | Luas (m2) | Digunakan untuk | Status Kepemilikan & Nomor | Lokasi |
1 | Tanah Sawah | Beli | 7005 | Obyek pertanian | Sertivikat hak pakai no. 08 | Sambirejo Pare |
2 | Tanah Sawah | Beli | 7970 | Obyek pertanian | Sertivikat hak pakai no. 09 | Sambirejo Pare |
3 | Tanah Tegal | Beli | 3330 | Obyek pertanian | Sertivikat hak pakai no 10 | Sambirejo Pare |
4 | Tanah Pekarangan | Hibah | 1930 | Bangunan gereja | Sertivikat hak milik no. 452 | Sambirejo Pare |
5 | Tanah Sawah | Beli | 10365 | Obyek pertanian | Sertivikat hak pakai no 11 | Sambirejo Pare |
6 | Tanah Pekarangan | Beli | 3235 | Banguna nsekolah | Sertfikat hak guna bangunan no 02 | Sambirejo Pare |
7 | Tanah Sawah | Beli | 34930 | Obyek pertanian | Sertivikat hak milik no. 3 a.n Petrus CS | Sambirejo Pare |
8 | Tanah Pekarangan | Hibah | 88 | Bangunan gereja | Petok D | Sumberjo Jambu Kayen Kidul |
9 | Tanah Pekarangan | Hibah | 840 | Bangunan gereja | Petok D | Sekaran Kayen Kidul |
10 | Tanah Sawah | Hibah | 700 | Obyek pertanian | Petok D | Sekaran Kayen Kidul |
11 | Tanah pekarangan | beli | 295 | Calon bangunan gereja | Sertivikat hak milik no. 126 | Tempuran Pelem Pare |
12 | Tanah pekarangan | Hibah | 250 | Halaman gereja | Sertivikat hak milik no. 471 | Wonosari Pagu |
13 | Tanah pekarangan | Hibah | 220 | bangunan gereja | Sertivikat hak milik no. 472 | Wonosari Pagu |
14 | Tanah pekarangan | Hibah | 132 | bangunan gereja | Petok D | Sumberbendo Pare |
15 | Tanah pekarangan | beli | 132 | Halaman gereja | Petok D | Sumberbendo Pare |
16 | Tanah pekarangan | Pemberian hal ex tanah Negara dan hak aigendom | 950 | bangunan gereja | Sertivikat hak milik no. 149 | Bendo Pare |
17 | Tanah pekarangan | Hibah | 250 | bangunan gereja | Sertivikat hak milik no. 141 | Adan-Adan Gurah |
18 | Tanah pekarangan | Hibah | 1120 | Halaman gereja | Akte Hibah | Adan-Adan Gurah |
Tabel 2.4 Pekerjaan
Mata Pencaharian | Jumlah Orang | Ranking | Prosentase |
Pegawai Negeri | 33 | 7 | 3,49 |
TNI/POLRI | 6 | 9 | 0,63 |
Pegawai Swasta | 211 | 1 | 22,30 |
Wiraswasta | 130 | 4 | 13,74 |
Petani | 136 | 3 | 14,38 |
Buruh Tani | 168 | 2 | 17,76 |
Pensiunan | 52 | 6 | 5,50 |
Guru/Dosen | 59 | 5 | 6,29 |
Peternak | 5 | 10 | 0,52 |
Buruh Pabrik | 10 | 8 | 1,06 |
Lainnya | 136 | 3 | 14,38 |
Tabel 2.5 Kelompok Balita dan yang Masih Sekolah
Pendidikan | Jumlah Orang | Ranking | Prosentase % | |
L | P | |||
Belum Sekolah | 58 | 49 | 2 | 22,20 |
TK | 34 | 23 | 5 | 11,83 |
SD | 89 | 65 | 1 | 31,95 |
SMP/sederajat | 29 | 33 | 4 | 12,86 |
SMA/sederajat | 28 | 40 | 3 | 14,11 |
Perguruan Tinggi | 16 | 18 | 6 | 7,05 |
Tabel 2.6 Kelompok Yang Sudah Tidak Sekolah
Pendidikan | Jumlah Orang | Ranking | Prosentase % | |
L | P | |||
Tidak Sekolah | 12 | 32 | 6 | 3,33 |
SD tidak tamat | - | - | - | - |
SD | 222 | 259 | 1 | 35,63 |
SMP/sederajat | 153 | 161 | 3 | 23,26 |
SMA/sederajat | 178 | 175 | 2 | 26,15 |
Diploma | 31 | 40 | 5 | 5,26 |
Strata 1 | 43 | 38 | 4 | 6,06 |
Strata 2 | 5 | - | 7 | 0,37 |
Strata 3 | - | - | - | - |
No comments:
Post a Comment